Berkolaborasi dan Menggiatkan Literasi di Tengah Pandemi

Tidak terasa sudah hampir dua bulan kita terpaksa harus bekerja dari rumah, belajar di rumah, Work from Home,  Learn at Home. Suatu keadaan yang tidak pernah terlintas di benak kita selama ini. Dengan semakin meluasnya wabah virus corona yang penyebarannya semakin merata di pelosok negeri, membuat pemerintah harus mengambil tindakan cepat dan tepat untuk menahan lajunya virus corona agar tidak semakin banyak memakan korban. Sehubungan dengan Work from Home,  Learn at Home yang ditetapkan oleh pemerintah dalam menyikapi merebaknya pandemi virus corona, covid-19, budaya literasi sangat tepat diterapkan untuk “bekerja dari rumah dan belajar di rumah”.

Pengertian literasi menurut buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara (Depdikbud. 2016: 2). Dengan meningkatkan  budaya literasi di masa physical distancing seperti saat ini, diharapkan wawasan dan pengetahuan peserta didik khususnya, dan warga madrasah pada umumnya, akan meningkat.

Selama bekerja dari rumah dan belajar di rumah, kita bisa meningkatkan kemampuan menulis peserta didik, sekaligus kemampuan menulis kita sendiri, sebagai guru. Kemampuan menulis bisa kita mulai dengan hal-hal kecil yang sederhana, yakni memotivasi peserta didik agar semangat mereka tetap terjaga dengan baik. Bisa kita bayangkan kejenuhan peserta didik kita, setiap hari harus melakukan rutinitas tanpa ada gelak tawa dan canda bersama teman-teman juga guru-guru mereka seperti biasanya. Rasa jenuh dan bosan pasti pernah mereka rasakan. Untuk itu, sebagai guru kita bisa membangkitkan dan menjaga semangat mereka dengan mengirimkan kalimat motivasi melalui grup WhatsApp atau e-Learning Madrasah di submenu Timeline Kelas.

Motivasi diperlukan untuk mengubah keadaan buruk seseorang menjadi lebih baik. Dengan motivasi, terutama dari orang-orang terdekat dipercaya mampu  menumbuhkan rasa percaya diri seseorang. Kata-kata motivasi bisa kita kirimkan setiap pagi sebelum anak-anak memulai aktivitas sehari-hari. Kalimat motivasi bisa bervariasi sesuai peristiwa yang baru saja terjadi. Sebagai contoh, kita mengetahui di grup banyak anak yang mengeluhkan tugas-tugas yang menumpuk, kita bisa memotivasi mereka dengan kalimat, “Anak-anakku yang saleh dan salehah, biasakan tidak menunda pekerjaan, selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. Rasa syukur bisa kita tuangkan dengan berbagai cara, salah satunya dengan melaksanakan tugas dan kewajiban dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Semoga Allah Swt. senantiasa memudahkan semua urusan kita”. Dengan menulis kata-kata motivasi setiap hari,  secara tidak langsung kita sudah mengasah kemampuan menulis kita, literasi kita. Selain itu, kata-kata motivasi bisa juga kita tuangkan melalui media sosial.

Menulis berarti menyimpan apa yang telah kita baca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja. Melalui kegiatan menulis, akan menghasilkan sebuah karya yang akan abadi dan terus mengalir manfaatnya walaupun penulis sudah tiada.  Sebagaimana yang disampaikan oleh novelis kenamaan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Sedangkan sahabat Rasulullah, Ali Bin Abi Thalib ra, mengatakan,  “Ikatlah ilmu dengan menulis”. Dari kedua pernyataan tadi, bisa kita simpulkan betapa penting dan dianjurkannya mengasah keterampilan dan kompetensi “menulis” kita.

Berdasarkan Surat Edaran Nomor 4 tahun 2020 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyikapi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di tengah pandemi Covid-19,  ada empat kebijakan yang diambil. Pertama, mendorong pembelajaran secara daring. Meskipun kita tahu, hal ini tidak bisa dilakukan secara menyeluruh di Indonesia karena keterbatasan teknologi. Kedua, memberikan kecakapan hidup yang kontekstual sesuai dengan kondisi anak. Ketiga, pembelajaran di rumah harus sesuai kondisi dan minat anak. Keempat, untuk tugas dan seterusnya tidak harus dinilai seperti biasa, namun bersifat kualitatif dan memberikan motivasi pada anak.

Menindaklanjuti kebijakan tersebut, peningkatan di bidang literasi sangat tepat dan sesuai. Peserta didik untuk kelas atas (kelas 4 ke atas) bisa kita beri tugas untuk menuliskan pemahamannya tentang virus yang sedang mewabah di seluruh dunia ini serta bagaimana cara agar terhindar dari penularannya. Mereka bisa mendapatkan informasi dari media cetak, elektronik, maupun media online. Dengan menuliskan pengalaman pribadi dan cara mereka menghindari penularan virus corona secara langsung maupun tidak, bisa meningkatkan kemampuan literasi peserta didik kita. Untuk menuliskan pemahaman tentang Covid-19, mereka harus menyimak berita dan informasi yang ada kemudian menuangkan pemahamannya tersebut dalam bentuk tulisan.

Pelaksanaan pembelajaran di rumah membutuhkan kolaborasi dari semua pihak, yaitu guru, siswa, orang tua, dan sekolah.  Harus ada kerja sama yang baik antarguru agar tugas siswa tidak menumpuk. Siswa juga harus mempunyai semangat belajar. Peran orang tua sangat diperlukan agar siswa tetap disiplin dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Pembelajaran daring pasti membutuhkan dana untuk pengadaan paket internet yang lebih dari biasanya. Seharusnya sekolah tidak menutup mata dan bisa menganggarkan dana pembelian paket internet untuk siswa kurang mampu dan tenaga honorer (GTT).  Pemerintah juga sudah memberikan kebijakan bahwa dana BOS bisa digunakan untuk pembelian paket internet. Hindari penyampaian materi pelajaran dan pemberian tugas dalam bentuk video agar tidak terlalu membebani orang tua dalam pembelian paket internet.

Pemberian materi pembelajaran dan pengumpulan tugas bisa dilakukan melalui e-Learning Madrasah atau grup WhatsApp. Sebagai guru, kita harus menyiapkan bahan ajar yang diperlukan peserta didik.  Kita harus mengubah paradigma belajar di rumah identik dengan tugas saja. Peserta didik tetap berhak mendapatkan pembelajaran yang berkualitas meskipun tidak sebagus ketika bertatap muka langsung. Mari kita melaksanakan Work from Home,  Learn at Home, bekerja dari rumah, belajar di rumah, dengan tetap menjaga kualitas diri yang ada, dengan cara meningkatkan kolaborasi dan kemampuan literasi kita.

 

 

Oleh : Sukarti, M.Pd.

Tulisan tersebut pernah dimuat dan diikutkan dalam “Lomba Menulis Artikel di Website Pergumapi” pada Mei 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *